Postingan

Menampilkan postingan dengan label Syair

Piano Hujan

Gambar
Gambar oleh  Arthur Robert--Bogard  dari  Pixabay Melodi piano bersenandung Partikel udara bersambung Gelombang suara melambung Berhati detak jantung Perulangan masa sesuatu Pertautan tut piano itu Perlambangan bilangan baru Pertanya akan satu Indanya regu alunan Melewati indera panca Berderunya kebaikan Menerjunkan permata

Puisi Kunang Kunang

Gambar
Kerlap kerlip cahayamu Ke sana ke mari Dari manakah asalmu Tiba-tiba menghampiri Sendiri kau ke sini Berani sekali? Apa yang kau cari Mau apa lagi? Kau menari-nari, Melompat tiada henti Kau jalan kaki, Menapak dengan rapi Mana kawanmu kawan? Kau hilang arah atau Kau memang terarah? Asal jangan tertawan Kenapa buru-buru? Sinarmu pun tak malu Hanya ingin tahu? Bila nanti bertemu

Dikala Hujan

Gambar
Mega mendung membumbung Menutupi cahaya surya Abu kelabu melambung Rona cahaya merana Petikkan air jatuh merintik Menuju ke titik-titik Lambat laun berdetik Hujan semakin memantik Gelagar petir menyambar Gemuruh lebur bercampur Gemerlap langit memudar Ganti hujan menyebar Nestapa bumi menjelma Ada yang berbahagia Ada yang berduka Ada yang berbeda Hujan tak mesti sama meski sering bersama, ketika ia ada dan tiada patutlah untuk berdoa

Bumi Kami Minta Maaf

Gambar
Image by  WikiImages  from  Pixabay Berpijakku di sini Berdiriku di sini Berdiamku di sini Bersemayamku di sini Bumi. . . Tanpa henti engkau bergerak demi hajat kehidupan mahluk lain, meski sedikit dari mereka yang menghargaimu. Ketika engkau bergerak penuh tiba berderet bencana, banyak yang menyalahkanmu. Beragam cara ditempuh untuk memahamimu namun tak banyak hasilnya. Engkau Bumi tetaplah misteri. Kami diberi kabar bahwa Engkau dan kawan-kawanmu bergerak sebagai bentuk tasbihmu kepada Sang Pencipta. Sedangkan kami disisimu sering menginjak-injakmu, merusakmu, menyakitimu, memerasmu, melupakanmu. Wahai Bumi maafkanlah kami.

Aku Hidup Saat Ini

Gambar
Image by  mohamed Hassan  from  Pixabay Aku pernah muncul kekehidupan dan menjalani kehidupanku dulu. Aku akan menjalani kehidupanku atau aku akan diakhirkan hidupku nanti, Hanya Allah yang tahu! Yang aku tahu aku harus memanfaatkan kehidupan yang telah diberikan Allah ini dengan sebaik-baiknya semampuku. Karena sesungguhnya manusia adalah mahluk yang lemah. Saat ini aku masih hidup. Aku adalah Abdullah. Optimis dan kerjakan perintah-Nya. Jauhi larangan-Nya sejauh mungkin.

Sedih

Gambar
Gambar di ambil dari Pixabay.com Rasanya aku merasa tidak enak atas perasaan-perasaanku. Para perasaan itu seketika memberontak di dalam hatiku. Mereka memicu kedua mata ini untuk meluapkan apa yang ditahan. Setetes demi setetes silih berganti. Saat itu juga perasaan-perasaan yang tadinya merebak mulai mereda dengan segera. Lalu timbul kelegaan namun berbalut kesedihan. Apa yang aku tangisi? Apakah menangisi perasaan sampai begini? Perasaan apa sebenarnya yang membuatku menangis? Yang pasti ini bukanlah tangis haru atau tangis bahagia. Karena sedih yang ada. Hai perasaanku berdamailah dengan hatiku, bekerja samalah dengan pikiranku, dan pekerjakanlah indera-inderaku untuk mencapai kedamaian jiwa. Jangan bersedih. . . Allah bersama kita selalu. Allah tempat kita berasal dan tempat kita kembali. Hanya kepada-Nya lah kita bergantung.

Kanker Batin

Gambar
Image by  Kevin McIver  from  Pixabay Bila batin tertekan Batin sulit merasa Bila rasa tertekan Hati kan hilang Hilangkan hati hidup kan hampa Hampakan hidup mati pun . . . tak daya! tak beda! tak guna!

Sajak Muncak

Gambar
Menunggu sunrise di Pos Pemancar, G. Merbabu Angin mengalir lembut menusuk tulang. Raga menggigil pun bersandar tanah. Aaah rebahlah penat. Ratusan mata berbinar memandang. Ku dongakkan kepala. Ku tatap mata-mata disana. Mereka bercahaya tulus. Berkedip berdiam lurus. Elok betul. Besar benar. SubhanAllah, Sedaya ini kah hambamu di hadapan-Mu. Sembah sujudku pada-Mu. Sang Maha Kuasa.

Orang Tuaku

Gambar
Orang tua memang lebih tua. Orang tuaku terdiri dari Ayah dan Ibu. Mereka lebih tua dariku dan satu generasi di atasku. Orang tuaku pernah hidup sebelum aku hidup. Orang tuaku telah lahir sebelum aku lahir. Mereka pernah kanak-kanak, pernah remaja, dan menjadi pemuda pemudi, sampai akhirnya beranjak menua. Bapak dan Ibuku ternyata telah melalui waktu lebih lama dariku serta telah pula melalui tempat lebih banyak dariku. Aku pun tahu betapa banyak perjuangan dan pengorbanan mereka kepadaku dan adik-adikku. Lantas apa yang harus aku laksanakan demi membalas budi? Banyak hal yang pasti bisa dilakukan akan tetapi satu hal yang pasti adalah mengembangkan senyum kebahagian di wajah mereka. Karena setetes keringat ibu dan Ayah tak akan tergantikan dengan hal-hal yang bersifat materi atau duniawi.